Gaung Anak Serka – Sabtu, 9 Mei 2026 pukul 11.00 WIB, angin Parit Sonok berhembus pelan. Di Desa Rambaian, baris jagung berdiri tidak rata. Ada yang tinggi. Ada yang kurus. Ada yang daunnya menguning. Di antara itu semua, kelompok tani berjalan pelan. Mereka tidak hanya merawat jagung. Mereka merawat waktu.
Kapolsek Gaung Anak Serka melaporkan kegiatan pemantauan progres perawatan jagung dalam rangka Program Asta Cita untuk ketahanan pangan. Lokasi kegiatan berada di lahan ketahanan pangan jagung Desa Rambaian. Jagung ini sudah dua bulan ditanam. Dua bulan dirawat. Dua bulan ditunggu. Tapi ia belum selesai bercerita.
Bentuk kegiatan meliputi pemantauan jagung yang sudah ditanam dan dipupuk. Petugas menyusuri pematang. Menyentuh batang. Menatap daun. Menghitung harapan. Hasil kegiatan menunjukkan perkembangan pertumbuhan jagung tidak merata. Sekitar 60 persen tumbuh agak bagus. Sisanya tidak tumbuh dan berkembang dengan baik. Sebagian tanaman juga terkena hama.
Kondisi tanaman jagung saat ini belum layak panen. Tanah masih menyimpan diam. Petani masih menyimpan sabar. Diperkirakan untuk tanaman jagung yang bisa dipanen sekitar 1 bulan ke depan. Satu bulan lagi. Satu bulan yang terasa panjang. Satu bulan yang harus dilalui dengan doa.
Kapolsek Gaung Anak Serka IPTU Andi Pernando Purba mengatakan, ketahanan pangan adalah tentang menunggu dengan hati. “Jagung yang 60 persen tumbuh bagus itu adalah bukti bahwa tanah Rambaian masih mau bekerja sama. Yang belum tumbuh, kita rawat. Yang terkena hama, kita obati. Ketahanan pangan itu bukan hasil instan. Ia adalah proses yang harus kita jaga bersama, meski kadang rasanya lelah,” ujarnya.
Bagi IPTU Andi Pernando Purba, kehadiran polisi di lahan jagung bukan hanya soal laporan. “Kami datang bukan untuk menuntut hasil. Kami datang untuk menemani. Karena ketika petani merasa sendiri, semangatnya bisa gugur sebelum jagungnya. Kami ingin warga tahu, Polsek GAS ada di tengah mereka. Kami ingin petani merasa didukung,” katanya.
Di Rambaian, kelompok tani tidak berjalan sendiri. Polsek Gaung Anak Serka hadir sebagai mitra. Hadir untuk memberi semangat. Hadir untuk memastikan bahwa ketika jagung sakit, ada tangan yang mau mengobati. Ketika jagung tumbuh, ada hati yang mau bersyukur. “Kalau jagung ini tumbuh, maka desa ini akan kuat. Kalau desa ini kuat, maka Indonesia akan berdiri tegak,” tegas IPTU Andi.
IPTU Andi Pernando Purba menambahkan, hasil ini akan menjadi evaluasi bersama. “60 persen itu angka yang baik untuk kita syukuri, tapi juga untuk kita perbaiki. Satu bulan ke depan, kita akan panen. Kita akan lihat hasil dari kerja hari ini. Kalau kita kompak, maka Rambaian akan jadi contoh desa mandiri pangan,” ujarnya.
Dari Parit Sonok, pesan itu menyebar ke seluruh Gaung Anak Serka. Ketahanan pangan bukan hanya urusan petani. Ia urusan semua. Ia urusan polisi yang mau turun ke ladang. Ia urusan pemerintah yang mau mendengar. Ia urusan warga yang mau menanam. “Swasembada pangan itu dimulai dari satu rumpun jagung. Dari satu bedengan yang dirawat. Dari satu desa yang tidak mau menyerah,” ucapnya.
Dokumentasi kegiatan telah dilaporkan kepada Kapolres Inhil, dengan tembusan Wakapolres, Kabag SDM, Kasat Samapta, dan Kasat Binmas Polres Inhil. Laporan ini menjadi catatan bahwa di Rambaian, jagung masih belajar tumbuh. Dan polisi masih belajar menemani. “Kami catat semua. Yang tumbuh, kami dukung. Yang sakit, kami bantu. Karena ini bukan hanya laporan, ini tanggung jawab,” kata IPTU Andi.
Di lahan Rambaian, polisi tidak bicara dari atas. Polisi bicara dari pematang. Dari lumpur. Dari panas matahari. Dari keringat yang menetes. Karena bagi IPTU Andi, ketahanan pangan adalah bentuk cinta pada negeri. “Cinta pada Indonesia tidak cukup diucapkan. Ia harus ditanam. Ia harus dirawat. Ia harus dipanen bersama,” ujarnya.
Hari itu, Parit Sonok pulang dengan hati tenang. Jagung belum panen. Tapi semangat sudah berbuah. Petani tersenyum. Polisi mencatat. Dan tanah Rambaian terus menyerap air, menyerap doa, menyerap harapan.
Dan ketika matahari mulai condong, IPTU Andi Pernando Purba berpamitan. Ia tidak membawa jagung. Ia membawa keyakinan. Keyakinan bahwa selama Polsek GAS masih mau berjalan di antara bedengan, selama kelompok tani masih mau menyiram tanah, maka Rambaian akan terus punya alasan untuk menunggu panen dengan kepala tegak.
Karena di Gaung Anak Serka, ketahanan pangan bukan slogan. Ia tumbuh di antara daun jagung. Ia tumbuh di antara silaturahmi polisi dan petani. Ia tumbuh di antara janji bahwa satu bulan lagi, kita akan panen bersama.(*)