Meranti, TanahIndonesia - Manajemen PT National Sago Prima (PT NSP) menyampaikan klarifikasi resmi terkait aktivitas penelitian yang melibatkan seorang mahasiswa pascasarjana dari Universitas Lancang Kuning, yakni Apen Taruna, di area operasional pabrik perusahaan tersebut.
Dalam keterangan tertulis yang diterima pada Senin (23/2/2026), PT NSP menegaskan bahwa sejak mulai beroperasi pada 2009 di Kabupaten Kepulauan Meranti, perusahaan berkomitmen mendukung berbagai program pemerintah, antara lain ketahanan pangan berbasis produksi tepung sagu, pemberdayaan masyarakat di sekitar wilayah konsesi, serta pengendalian kebakaran hutan dan lahan melalui program Desa Mandiri Peduli Gambut.
“Sejak awal beroperasi, kami berkomitmen untuk terus mendukung program pemerintah, khususnya ketahanan pangan berbasis sagu serta pemberdayaan masyarakat di sekitar wilayah operasional,” ujar Budi Dalam Press Rilis
Selain itu, perusahaan juga menjalankan tanggung jawab sosial melalui berbagai program, seperti peningkatan infrastruktur jalan, kegiatan kepemudaan, hingga dukungan sektor pendidikan berupa pemberian beasiswa, sertifikasi guru, pembangunan fasilitas sekolah, serta bantuan honor tenaga pendidik.
Dalam aspek akademik, PT NSP juga secara aktif memfasilitasi kegiatan penelitian, praktik kerja lapangan, dan program magang mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi, baik dalam maupun luar negeri.
“Kami juga aktif mendukung dunia pendidikan, termasuk membuka ruang bagi mahasiswa untuk melakukan penelitian, magang, maupun kerja sama akademik,” tambahnya.
Manajemen PT NSP menegaskan bahwa perusahaan pada prinsipnya terbuka terhadap kegiatan riset mahasiswa, sepanjang mengikuti prosedur yang telah ditetapkan.
Prosedur tersebut mencakup pengajuan surat permohonan izin penelitian, proposal penelitian, serta surat rekomendasi resmi dari pihak perguruan tinggi yang bersangkutan.
“Pada prinsipnya kami terbuka, namun setiap kegiatan penelitian wajib mengikuti prosedur yang berlaku demi ketertiban dan keamanan bersama,” tegas Budi.
Terkait peristiwa yang terjadi pada Rabu, 11 Februari 2026 sekitar pukul 10.00 WIB, PT NSP menjelaskan bahwa Apen Taruna memasuki area pabrik dengan maksud melakukan penelitian, termasuk observasi proses produksi tepung sagu, wawancara dengan staf, serta pengisian kuesioner. Namun, yang bersangkutan disebut belum memenuhi prosedur administrasi sebagaimana ketentuan perusahaan.
“Yang bersangkutan datang untuk melakukan penelitian, namun belum melengkapi prosedur administrasi sebagaimana yang telah ditetapkan perusahaan,” jelasnya.
Atas kondisi tersebut, pihak perusahaan meminta agar yang bersangkutan melengkapi terlebih dahulu persyaratan penelitian sebelum kegiatan dapat dilanjutkan.
“Kami hanya meminta agar prosedur dilengkapi terlebih dahulu, setelah itu kegiatan penelitian tentu dapat dilanjutkan,” katanya.
Perusahaan juga menyampaikan bahwa dokumentasi yang telah diambil selama berada di area pabrik diminta untuk dihapus karena proses penelitian belum memperoleh izin resmi.
Dalam proses tersebut, pihak perusahaan menyatakan telah meminta persetujuan dari yang bersangkutan.
“Permintaan penghapusan dokumentasi dilakukan karena belum adanya izin resmi, dan itu telah disetujui oleh yang bersangkutan,” ungkap Budi.
Lebih lanjut dijelaskan, saat hendak meninggalkan lokasi, Apen Taruna mengalami kondisi kesehatan yang menurun secara mendadak.
Pihak perusahaan kemudian memberikan pertolongan pertama dengan membawa yang bersangkutan ke klinik perusahaan.
“Ketika hendak pulang, yang bersangkutan tiba-tiba mengalami gangguan kesehatan, sehingga kami langsung memberikan pertolongan pertama di klinik perusahaan,” ujarnya.
Dalam situasi tersebut, pihak perusahaan menyebut telah meminta izin untuk membuka akses telepon genggam guna menghubungi keluarga yang berada di Selatpanjang, sekaligus memastikan koordinasi penjemputan.
“Kami juga meminta izin untuk menghubungi pihak keluarga agar dapat segera dilakukan penjemputan,” tambahnya.
Setelah mendapatkan penanganan awal, mahasiswa tersebut kemudian diantarkan menggunakan fasilitas transportasi perusahaan menuju Selatpanjang untuk diserahkan kepada pihak keluarga.
“Sebagai bentuk tanggung jawab, kami turut mengantarkan yang bersangkutan hingga ke Selatpanjang agar dapat dijemput oleh pihak keluarga,” tutup Budi.
PT NSP menegaskan bahwa hingga saat ini perusahaan tetap membuka kesempatan bagi mahasiswa yang ingin melakukan penelitian, dengan ketentuan seluruh prosedur dan persyaratan administrasi dipenuhi.
“Kami tetap terbuka bagi mahasiswa yang ingin melakukan penelitian, selama seluruh ketentuan dan prosedur dipatuhi,” pungkasnya.
Di akhir pernyataannya, manajemen PT NSP menyampaikan apresiasi kepada insan pers yang selama ini memberikan perhatian, masukan, serta kritik konstruktif terhadap operasional perusahaan, sebagai bagian dari upaya perbaikan berkelanjutan.
“Kami mengapresiasi rekan-rekan media atas dukungan, masukan, dan kritik yang membangun demi perbaikan ke depan,” tuturnya.***
Sumber: Budi, Manajer PT National Sago Prima

